Agenda KombaS

Civitas akademika di perguruan tinggi merupakan sebuah media pengayaan, yang meniscayakan mahasiswa sebagai patner subyek pendidikan untuk mengaktulisasikan diri mereka dalam berbagai hal yang menunjang orientasi masa depan. Namun, sebuah kepastian bagi mehasiswa untuk menjadi manusia akademis, terlepas dari apapun kecendrungan mereka. Karenanya kemampuan membaca, berdiskusi, menulis baik teks maupun konteks sudah seharusnya menjadi komoditi para mahasiswa.

Mungkin KOMBAS adalah formula latah untuk membentuk mahasiswa yang berjiwa akademisi, mungkin juga sebuah alternatif terakhir bagi sebuah proses pe-mahasiswaan mahasiswa, namun KOMBAS lahir dari sebuah tidur panjang dan kegelisahan tak berujung bagi pengayaan mahasiswa yang haus akan khittah-nya. Sebuah harapan dari kenyataan yang demikian semrawut telah mereka telurkan dalam jiwa KOMBAS. Serpihan do’a yang tercecer pun mulai dikemas dalam buntaian semangat belajar membaca, berdiskusi, dan menulis.

Sebuah harapan yang muncul dari beberapa kepala mahasiswa IAIN Sunan Ampel tersebut di-amin-I oleh Proff. DR. Nursyam, M.Si (PuRek II IAIN Sunan Ampel) dengan menambahkan api semangat “kalau dalam waktu 3 bulan belum ada tulisan arek-arek yang dimuat di Koran, lebih baik kita bubarkan saja komunitas ini”, tandasnya dalam pertemuan perdana KOMBAS di halaman Toko Buku Sunan Ampel pada hari senin, 30 Juli 2007 yang lalu. Tentunya ini dapat dimaknai sebagai sebuah cambuk penambah akselerasi sekaligus suplemen pendobrak stamina syahwat berfikir dan bergerak kita. Betapa seorang PuRek saja mau nyangkruk bareng dan ber-onani wacana bersama dalam sebuah komunitas sederhana tanpa dana. Tak banyak harapan yang terbangun, namun komunitas ini ingin mengembalikan wacana sebagai kajian, tulisan sebagai gerakan, dan membaca sebagau sebuah peradaban dalam tubuh mahasiswa sebagai akademisi.

Sederhana dan apa adanya itulah image dari KOMBAS, sebuah komunitas yang lahir di antara reruntuhan dedaunan dalam kompleks IAIN Sunan Ampel, tidak ada gedung dan sarana memadai dalam berdiskusi, tidak cukup asupan amunisi, namun, bukan itu yang membuat KOMBAS ada, bahkan di alam KOMBAS berdinamika mencoba mencerna wacana dan realita, jadi lewat kederhanaan teman-teman diharapkan mampu memacu syahwat sampai pada batas-batas orgasme fikir manusia. Ini semua menghantarkan teman-teman kepada beberapa kegiatan dalam KOMBAS, diantaranya:

Sabtu yang Suci, kajian sabtu sore yang dilaksanakan di halaman depan Toko Buku Sunan Ampel setiap hari sabtu pukul 15.00 ini merupakan sebuah arena pembelajaran dan diskusi buku, sebagai kerangka awal berfikir sebelum membaca realitas, sehingga materi ini diharapkan mampu me-maping sekian permasalahan sekaligus menerjemahkannya dalam bahasa tulisan. Setelah itu dilanjutkan pada sedikit pembacaan relitas sebagai instrument rangsangan onani wacana yang akan dibahas pada pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Buletin, Buletin KOMBAS, begitu kami menyebutnya, diisi oleh beberapa rubrik yang memang sangat nJawa-ni, sebut saja Kulo Nuwun sebagai pengantar salam redaksi, Moco sebagai hasil penetrasi hasil pembahasan kajian jum’at-an, ngopi (ngopi ambe mikir) sebagai bentuk aktualisasi lepas hasil tulisan teman-teman dalam melihat isu-isu aktual dalam realitas harian.

Kajian Eksidental, kajian ini lebih mengedepankan isu-isu terbaru ataupun wacana kontroversial yang memang menarik untuk diperbincangkan sambil bekerja sama dengan orang-orang yang memang kompeten dalam bidangnya.

KOMBAS, atau apapun namanya adalah sebuah harapan sederhana dari segelintir mahasiswa yang ingin kembali ke khittah-nya setelah melihat sekian fakta dan realita yang ada di sekitar civitas akademika Surabaya, eksistensinya memang ditentukan oleh para mahasiswa yang sadar oleh kepentingan akademis, jika anda salah satu diantaranya, BERGABUNGLAH.

wassalam,

el-Faridzie

Published in: on Desember 11, 2008 at 5:54 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Selamat Pagi Surabaya

Mungkin saja anda buka blog ini siang, sore, malam, atau bahkan tengah malam, namun sapaan “selamat pagi” untuk anda adalah abadi. Selamat pagi, menunjukan sebuah semangat, sebuah bentuk apresiasi terhadap eksistensi anda dalam kegiatan harian, sukses buat anda!!!

Selamat datang dalam lembaran-lembaran diskursus panjang dalam hidup, sebelum anda menyelami kisah-kasih KombaS atanu bahkan tenggelam bersama kami, tentunya anda ingin tahu tentang kami bukan?

KombaS hanyalah sebuah masyarakat kecil, serpihan dari sekian banyak sempalan kegiatan yang bergeliat di surabaya, khususnya IAIN Sunan Ampel. berangkat dari sebuah kegelisahan, kekhawatiran, atau bahkan sebuah kekecewaan terhadap lingkungan akademis yang tidak mencerminkan aktivitas akademik. Suatu hari KombaS “lelaku” di sudut gedung fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel, ada sebuah “rombong” (gerobak) yang konon katanya peninggalan komunitas Suket, terdapat sebuah tulisan yang cukup menggelitik tertoreh di atas nya, “tipis bedhone wong bodho ambe’ wong sing ga tau mocho”. kalimat ini sangat sederhana namun, fedback nya cukup luar biasa. Kami yang selama ini ada dilingkungan akademik saja tidak banyak menemukan geliat baca dan ilmiah apalagi lingkungan masyarakat surabaya.

beberapa hal di atas kemudian disambut oleh beberapa sahabat dengan berkumpul dan mendeklarasikan KombaS tepat pada tanggal 29 Agustus 2007 di halaman Toko Buku IAIN Sunan Ampel. “ngariung” yang saat itu sempat dihadiri oleh bapak Proff. DR. Nursyam, M.Si (kala itu PR II IAIN Surabaya) menghasilkan beberapa catatan penting; pertama terpilihnya Mas Habib Mustofa, M.S.i sebagai direktur Kombas, serta beberapa tantangan untuk mengenalkan KombaS kepada masyarakat Surabaya.

Hal kedua kemudian kami tanggapi dengan berdiskusi dan menulis, hingga beberapa kali kami mampu menelurkan tulisan kami di media massa (walau orangnya itu-itu juga), mengadakan beberapa kegiatan seminar dan kaderisasi terhadap beberapa sahabat yang saat itu kita beri “label” RWeT (baca; ruwet).

Namun, pasca itu terjadi beberapa kendala (sebenarnya hanya apologi atas kemalasan kami) sehingga RWeT atau bahkan KombaS tak bisa kami “openi” tak lama Kombas dan RWeT-pun…MATI!

Sahabat, tepat 1 tahun setelah lahirnya, kami berencana untuk menguburkan KombaS pada bulan agustus, namun ada beberapa sahabat yang menganggap KombaS belum mati, kata mereka KombaS hanya SAKIT kalaupun MATI hanyalah MATI SURI. Atas dasar itu kami berkumpul, menyiapkan sekretariat yang bertempat di Toko Buku IAIN Sunan Ampel, serta beberapa instrumen lain demi mengumpulkan lagi yang telah berserak, hingga akhirnya kami ingin kabarkan pada kalian, pada SURABAYA, bahkan pada DUNIA bahwa kami masih ada, hidup setelah tidur yang cukup lama dan panjang.

selamat datang kami ucapkan, terima kasih atas “takziyah” anda, selamat menelusuri labirin cinta kasih kami dalam Komunitas Baca Surabaya.

wallahulmunafiq ila aqwami as-syariq,

wassalam

el-Faridzie

Published in: on Desember 11, 2008 at 5:26 am  Comments (2)