Dicari : Pak Haji Mabrur

Oleh : Ach. Syaiful A’la*

Ziarah keagamaan adalah ibadah atau ritual yang lazim dalam hampir seluruh agama yang ada di bumi. Seperti ibadah haji bagi umat Islam merupakan ibadah sakral, wajib dilaksanakan setiap muslim yang mampu secara ekonomi, bekal cukup untuk berangkat dan pulangnya, mempunyai ilmu, tahu tata cara pelaksanaan (manasik) haji.

Haji ke Baitullah merupakan salah satu ritus keagamaan bagi pemeluk agama-agama Samawi. Ia telah dilaksanakan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Menurut beberapa sumber yang ada, Nabi Adam juga pernah melaksanakan ibadah haji dengan cara tawaf (mengelilingi Ka’bah) setelah membangun Ka’bah, juga Nabi Ibrahim dan putranya, Isma’il setelah membangun Ka’bah kembali di Mekkah.

Uniknya, ibadah haji tidak bisa dilaksanakan pada sembarang waktu. Al-Qur’an (2:197) menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah haji telah ditentukan waktunya hanya satu kali dalam setahun, yaitu pada hari ke-8, ke-9, dan ke-10 bulan hijriyah, diluar waktu itu yang dilakukan bukan ibadah haji, tapi ibadah umrah (haji kecil).

Haji, seperti kita ketahui merupakan salah rukun Islam kelima yang sangat unik dan kompleks dalam pelaksanaannya. Sebagai bagian dari ajaran Islam, mekanisme pelaksanaan ibadah haji membutuhkan segala bentuk kemampuan yang berkaitan dengan fisik dan non-fisik, kesiapan mental, kesadaran diri, semangat keagamaan, ketulusan hati, perjuangan, dan pengorbanan. Sehingga pelaksanaan ibadah haji mempunyai perbedaan yang segnifikan dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan rukun Islam lainnya.

Ibadah haji dikatakan unik dan komplek karena bentuk kesiapan dan persiapan memerlukan banyak hal di luar dirinya. Mulai kemampuan yang bersifat internal hingga ekternal. Dalam kenyataannya, kemampuan secara internal hanya menjadi bagian kecil lebih dari pada dukungan ekternal. Dukungan ekternal ini banyak melibatkan dukungan seperti sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Asghar Ali Engineer, tokoh muslim India mengemukakan bahwa haji merupakan sebuah perjalanan baru, usaha baru untuk melahirkan kembali, guna memuliakan Allah dan memimpin hidup baru. Hidup yang dipenuhi pengorbanan, pergerakan, perjuangan untuk membersihkan dunia dari ketidakadilan dan pelanggaran atas martabat manusia.

Haji merupakan latihan bagi manusia untuk kesalehan sosial, seperti meredam kesombongan, kediktatoran, gila hormat, serta keinginan untuk menindas bersama. Sebab, dalam haji, manusia harus mencopot segala pakaian kebesaran yang menciptakan ke-“aku”-an berdasarkan ras, suku, warna kulit, pangkat dan lainnya.

Tidak Hanya Ritual

Ibadah haji tidak hanya bersifat ritual belaka, tetapi ada misi sosial yang dikandungnya. Pada sisi inilah haji akan menemukan ruh yang sebenarnya. Ibadah haji adalah sarat dengan nilai-nilai dasar yang bertujuan untuk menguatkan daya spiritual pelakunya. Di balik praktik-praktik ritual haji, terdapat nilai yang akan didapat jika kemudian dipraktekkan dalam keseharian.

Semisal Ihram, sebuah rukun haji dengan memakai selembar kain putih. Ketika baju ihram dipakai, jamaah haji tidak diperbolehkan membunuh hewan – lalat sekali pun. Ia serius mengamati aturan-aturan, menahan diri dari segala yang dilarang. Berarti ihram bukan sekedar simbolik, tetapi juga memiliki pengertian substansial. Bahkan setelah melepas ihram, seseorang tidak dibenarkan berbuat yang tidak adil. Ihram disini juga berarti pengendalian. Mewajibkan pemakainya untuk senantiasa mengendalikan jiwanya dari tindakan-tindakan kejahatan, korupsi, penindasan dll.

Sa’i di Mina. Perjalanan sa’i tidak hanya identik dengan lari-lari kecil. Sa’i menandakan dinamika hidup seseorang yang tak kunjung letih dalam memperjuangkan hidup. Sa’i yang di lakukan oleh jamaah haji merupakan simbol dari adanya sebuah perjuangan yang tak berujung sampai batas tujuan akhir tercapai.

Wukuf di padang Arafah, semua orang berkumpul melepaskan atribut-atribut dan status sosial yang disandang. Semuanya dibungkus dengan kain putih, di tempat yang sama pula berbaur menjadi satu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak ada perbedaan sama sekali antara presiden dengan pengladen, bupati dengan tukang patri, camat dengan orang penjual tomat. Yang ada hanyalah rasa kemanusiaan, persaudaraan, solidaritas sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju kepada-Nya (QS. 2:196;24:42).

“Pak Haji”

kita bisa saksikan betapa banyak seorang hamba yang melaksanakan shalat lima waktu dengan khusu’, tahajud, dhuha, witir, puasa, zakat, melakukan kurban dll. Kenapa tidak dipanggil “Pak Shalat?”, “Pak Zakat?”, “Pak Puasa?”, “Pak Kurban?”. Tetapi orang yang melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, faham atau tidak, mengerjakan syarat rukun (manasik) haji atau tidak, lalu setelah pulang ke tanah air dipanggil “Pak Haji”.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Nabi SAW dari Jabir : “Tiada balasan apapun bagi haji mabrur kecuali surga”. Bagi jamaah haji predikat “mabrur” menjadi cita-cita “final”. Namun, cita-cita itu bisa jadi hanya mimpi jika (ihram, sa’i, tawaf, jumrah) haji yang dilakukan sama sekali tidak membekas dan tidak tampak dalam perilaku kehidupan sosial.

Haji umat Islam diyakini sebagai upaya pembersihan jiwa dengan jalur napak tilas seorang Khalilullah, Ibrahim. Melalui ibadah haji, umat manusia diarahkan untuk kembali kepada satu alur, yaitu tauhid. Karena inti ibadah haji secara praktikal ritual adalah tauhid. Maka orang yang hajinya mabrur, sejatinya menggambarkan totalitas kepribadiannya yang bersih (suci), siap mental menghadapi kehidupan, guna membina masyarakat berdasarkan nilai-nilai haji yang sudah didapat.

Mudah-mudahan jamaah haji Indonesia pulang dengan menyandang predikat “Pak Haji” (mabrur). Sebab predikat mabrur yang di miliki, akan menjadi solusi alternatif bagi problem-problem bangsa seperti diskriminasi, tindak korupsi, pelanggaran HAM dll. Sehingga keadilan, keharmonisan, persamaan, dan keamanan akan terwujud.

*Kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK) Surabaya. Hp. 081703039434

Published in: on Desember 16, 2008 at 3:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://kombas.wordpress.com/2008/12/16/dicari-pak-haji-mabrur/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: