Perang Salib; antara Tuhan dan manusia

BAB. I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Perang merupakan suatu hal yang menjadi tolak ukur kejayaan suatu bangsa dalam system politik kerajaan klasik, itu terjadi di semua daerah, dan hampir semua kerajaan, namun kepentingan kekuasaan seringkali berselingkuh dengan nilai-nilai ketuhanan, sehingga perang atas nama ideology, membela Tuhan, dan sejuta sebutan lainnya tak pelak lagi menjadi sebuah instrument penting bagi kuasa untuk memotivasi para tentara dan pasukan perang.

Perang salib salah satunya, perang turunan yang tak kunjung usai dalam beberapa abad, merupakan sebuah bentuk ekspansi yang berakar menjadi dendam ideology, sudah tak terhitung berapa kali perang salib terjadi, karena pada masa itu pertempuran antara kekuasaan muslim dan Kristen dimaknai sebagai perang salib (Crusade). Sungguh luar biasa kontrapretasi dari perang salib, karena perang ini menyisakan banyak hal yang tak tuntas dalam hitungan abad, sebuah dendam agama. Sehingga efak yang ditimbulkan berbuah warisan jangka panjang yang tak ada habisnya, bagi orang barat, perang salib untuk membebaskan Yerusalem adalah momentum semangat keagamaan yang istimewa dalam membela Tuhan (baca;agama Kristen). Tim olah raga barat, perusahaan-perusahaan pemasaran, dan media telah lama menggunakan citra prajurit salib sebagai ksatria pemberani dan perkasa, symbol agung untuk pengorbanan diri, kehormatan dan keberanian.[1]

Perang Salib adalah ekspedisi ketenteraan yang dilakukan untuk merebut kembali tanah suci Palestin dari tangan penganut Mohammedanism, demikian definisi yang ada di beberapa kepustakaan Katholik, tentu saja definisi ini menurut pandangan Katolik.

Beberapa ulama’ enggan menyebut perang ini sebagai perang salib. Mereka punya istilah sendiri iaitu Perang Sabil yang berasal dari kata Perang Sabilillah atau Jihad Sabilillah (Perang atau Jihad di jalan Allah). Definisi umat Islam tentu saja adalah Perang di Jalan Allah untuk mempertahankan tanah suci Palestina dari serbuan kafir Harbi Kristian. Perang ini berlangsung panjang, selama empat abad, yaitu dari abad ke-11 sampai abad ke 15. Perang ini terfokus di Palestina memperebutkan tanah suci Palestina, walaupun kemudian merambah juga ke Asia kecil dan Eropa Timur. Perang ini memang inisiatif pihak Kristian, demikian menurut kebanyakan kepustakaan.[2]

Perang ini terjadi pada tahun 1095 M, diserukan oleh Paus Urbanus II untuk melakukan perang suci demi merebut kembali daerah palestina yang saat itu dikuasai oleh bani Saljuk.

Dalam makalah ini penulis ingin menguraikan kronologi perang terbesar dalam sejarah peradaban manusia ini, terlebih perang ini menggunakan bendera-bendera ke-Tuhan-an, sehingga penaklukan antara satu kelompok dengan lainnya merupakan semangat Ilahiyyah yang di-“yakini” memiliki suatu reward dari Tuhan, entah Tuhan yang mana, wallahu a’lam.

II. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis mengkhususkan kajian pada beberapa hal yang dianggap penting dalam sejarah perang salib, diantaranya adalah:

1. Kronologi terjadinya perang salib.

2. Perang salib dalam pandangan Islam.

3. Perang salib dalam pandangan Katolik.


BAB. II

PEMBAHASAN

I. Kronologi Perang Salib

Perang salib merupakan suatu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen barat terhadap kaum muslimin di Asia barat dan mesir, yang di mulai pada akhir abad ke-11 sampai akhir abad ke-13. peperangan ini dilator belakangi oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Karena reaksi dunia Kristen di eropa terhadap dunia Islam di Asia, yang sejak tahun 632 M melakukan ekpansi, bukan saja ke Syiria danm Asia kecil; tetapi juga ke Spanyol dan Sicilia, ini menurut Philip K. Hiti.

2. Keinginan mengembara dan bekat kemiliteran suku Teutonia yang telah mengubah peta eropa sejak mereka memasuki lembaran sejarah penghancuran gereja, Holy Sepulchre adalah sebuah gereja yang didirikan di atas makam Yesus dikubur, pembangunanya dilakukan oleh Khalifah Tathimiyyah al-hakim pada tahun 1009, sedangkan gereja tersebut merupakan tujuan dari beribu-ribu jema’ah Eropa, perlakuan tidak wajar terhadap jema’ah Kristen yang akan ke Palestina melalui Asia kecil oleh penguasa Saljuk.

3. Tahun 1095 terulang permintaan bantuan kepada Pope Urban II(paus Urban II) oleh kaisar Bizantyum, Alexius Commenus yang daerah-daerahnya di Asia sampai ke Panai Marmora telah ditaklukan oleh bangsa Saljuk. Bahkan Konstatinopel ikut terancam. Dengan permintaan ini, Paus melihat kemungkinan untuk mempersatukan kembali gereja Yunani dan romawi yang terpecah, sekitar tahun 1009-1054 M.[3]

4. Sebagian peneliti juga menjelaskan bahwa alasan politik juga menjadi penyebab lain terjadinya kerjasama antara misionaris dengan imperialis. Mereka menggunakan ucapan pemimpin gereja seperti Yulius Richter sebagai dalil. Yulius telah mencerca umat Kristen yang telah membiarkan kekaisaran Byzantium secara berangsur-angsur digantikan oleh emperator Islam dan berlanjut dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke tangan umat Islam. Para peneliti yang berpendapat seperti ini sepertinya lupa bahwa infiltrasi umat Islam di berbagai penjuru dunia muncul sebelum adanya gerakan militer. Infiltrasi ini berakar dari masalah kebudayaan dan kepercayaan. [4]

Rentetan alasan itulah yang menjadikan Paus Urban II pada tanggal 26 November 1095 M bertempat di clermot (Prancis tenggara), berpidato dihadapan 225 pendeta basar dan tokoh masyarakat di eropa Barat. Karena sebenarnya terjadi banyak peperangan antar sesama Bangsa Eropa dan pada pertemuan yang diadakan di tempat terbuka tersebut, Paus mendorong mereka untuk berdamai satu sama lain dan memusatkan kekuatan militer mereka untuk tujuan yang konstruktif -membela Kekristenan dari aggresi Muslim, membantu Kristen Timur, dan mengambil alih kembali Kubur Kristus. Dia juga menekankan perlunya pertobatan dan motif spiritual dalam melakukan kampanye ini, menawarkan indulgensi total bagi mereka yang berkaul untuk melakukan tugas ini. Jawaban dari para hadirin sangat antusias, para hadirin berteriak “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!).[5]

Paus juga menegaskan bahwa orang-orang yang mengikuti perang suci, maka harta dan keluarganya ada dalam lindungan gereja, serta bagaimana pun besarnya dosa seorang pahlawan akan diampuni. Mati dalam peperangan atau akibat perang adalah mati suci, dan pasti masuk surga. Sehingga pada Tahun 1097 berkumpul di Konstantinopel sebanyak 150.000 orang dalam tulisan lain dikatan 100.000 orang[6], sebagin besar dari mereka adalah berasal dari Prancis dan Normandia. Teriakan Deus Vult menggema dan menimbulkan ketularan psikologi di kalangan Kristen Eropa. Maka, berduyun-duyun raja Kristen di eropa mendaftarkan diri, kemudian di ikuti oleh rakyat jelata, bahkan perampok, pembegal dan penyamun karena ingin membebaskan dosanya dan masuk surga.[7] Di sinilah babak pertama perang salib di mulai.

1. Perang Salib Pertama (1095-1101 M)[8]

Persiapan dimulai di seluruh Eropa. Kebanyakan tidak terorganisasi ataupun Beberapa prajurit begitu kurang persiapan sehingga mereka menjarah untuk memenuhi kebutuhan. Beberapa orang German membantai orang Yahudi. Beberapa tidak pernah sampai di Konstantinopel. Beberapa anggota dari “People’s crusade” yang tidak terorganisasi dan begitu tidak disiplin dan dikirim oleh Kaisar pada Agustus 1096 menuju ke Bosphorus, lebih dulu dari pasukan utama Perang Salib, mereka ditaklukan oleh tentara Turki.

Pada Juni 1097, Nicea diambil alih oleh Byzantine dan para Prajurit Salib. Bulan berikutnya Prajurit Salib dan Byzantine mendapatkan kemenangan besar melawan Turki ketika mereka diserang di Dorylaeum. Kemajuan lebih lanjut cukup sulit dan nampaknya beberapa orang menjadi putus semangat. Salah satunya adalah Alexius, yang berjanji untuk membantu kota Antioka yang terkepung. Ketika sang Kaisar berhenti untuk berusaha, para Prajurit Salib merasa bahwa kewajiban untuk menyerahkan Dorylaeum kembali ke Kaisar, telah hilang karena sang Kaisar sendiri tidak mampu mempertahankannya (Alexus telah hilang semangat). Karena itu, saat Dorylaeum diambil alih pada Juni 1099, kota tersebut jatuh ke tangan orang Normandia.

Bulan berikutnya Fatimid Muslim dari Mesir mengambil alih kembali Yerusalem dari kaum Seljug Turky, jadi para Prajurit Salib melakukan serangan bukan kepada bangsa Turky. Ini terjadi pada 1099. Selama sebulan para Prajurit Salib, yang telah berkurang separuh dari kekuatan awal, mendirikan kemah disekeliling Yerusalem sementara Gubernur Fatimid menunggu bantuan tentara dari Mesir. Disisi lain Prajurit Salib mendapatkan persediaan makanan dan kebutuhan dari pelabuhan Jaffa dan memulai gerakan mereka.

Sebagai hasil dari Perang Salib pertama, telah terbentuk empat negara bagian Kristen dari wilayah yang telah direbut Prajurit Salib: Kerajaan Jerusalem terdahulu, Principality Antioka (Prinsipality = daerah yang dikuasai pangeran/prince), Countship Edessa (Countship = daerah dalam kekuasaan Count. Count = semacam bangsawan) dan Countship Tripoli. Negara-negara bagian ini, yang menggunakan sistem feodal dalam konteks yang terlepas dari permusuhan lokal seperti yang terjadi di Eropa, telah disebut-sebut sebagai model administrasi Medieval. Namun, hubungan antara negara bagian, kekaisaran Byzantine dan daerah Muslim disekitarnya sering rumit.

Untuk mempertahankan negara-negara bagian baru ini, sebuah pasukan baru terbentuk –ordo-ordo Ksatria, seperti Hospitaleer oleh St John dari Yerusalem dan Templars. Ini adalah kelompok ksatria yang berkaul religius dan melakukan aturan-aturan religious dalam perspektif Kristen.

2. Perang Salib Kedua (1146-1148 M)

Sebagai respon, Paus Eugenus III memanggil Perang Salib baru, yang diserukan di Prancis dan Jerman oleh St. Bernard dari Clairvux. Raja Perancis, Louis VIII, dan istrinya, Eleanor dari Aquitaine, segera merespon, meskipun Kaisar Jerman, Conrad III, harus dibujuk. Kaisar Byzantine saat itu, Manuel Comnenus, juga mendukung Perang Salib, meskipun dia tidak menyumbangkan pasukannya.

Meskipun pada suatu waktu Perang Salib ini melibatkan pasukan terbesar, Perang Salib kedua ini tidak diikuti oleh antusiasme seperti antusiasme pada Perang Salib yang pertama, karena pada saat itu Yerusalem masih dikuasai Kristen. Jalannya kampanye kedua ini juga dipenuhi kepentengan-kepentingan dari pihak yang terlibat, yang kesemuanya menghambat kemajuan. Kesulitan perjalanan juga semakin menambah kesulitan. Ketika tidak mampu untuk sampai ke Edessa, para Prajurit Salib berkonsentrasi untuk mengambil alih Damaskus. Tapi konlik intern membuat mereka mengundurkan diri.

Kegagalan dari Perang Salib kedua begitu mematahkan semangat, dan banyak di Eropa merasa bahwa Kekaisaran Byzantine merupakan halangan dalam mencapai kesuksesan. Kegagalan ini juga merupakan tiupan moral yang kuat bagi Pasukan Muslim yang telah berhasil secara sebagian mengurangi kekalahan mereka di Perang Salib pertama.

Pasukan Latin mengalami kekalahan yang memalukan pada Tanduk Hattin (Sebuah formasi geologis yang menyerupai dua tanduk di perbukitan), dan Saladin kemudian meneruskan dan mengambil alih Tiberias dan kota pelabuhan Acre sebelum menyerang Yerusalem, yang jatuh pada 2 Oktober. Pada 1189, hanya ada beberapa negara bagian yang masih dikuasai kaum Kristen.

3. Perang Salib Ketiga (1188-1192 M)

Seiring dengan jatuhnya Yerusalem, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib ketiga. Sayang waktunya bersamaan dengan matinya raja-raja yang pertama kali menjawab panggilan.

Perang yang besar-besaran dan sangat legendaris tersebut berlangsung dengan di pihak Kristian dipimpin oleh Richard Si Hati Singa rajanya tokoh Legenda Robin Hood Frederick Barbarossa, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Perancis Di pihak Islam dipimpin oleh Shalahudin Al Ayyubi.[9] Pada masa itu kekhalifahan Islam terpecah dua iaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo yang bermazhab Syi’ah dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Anatolia yang bermazhab Sunni.

Shalahuddin prihatin akan hal ini, menurutnya Islam harus bersatu untuk melawan Eropa Kristian yang juga bersatu. Shalahuddin yang keturunan Seljuk, Turki kebetulan kekerabatan dengan Khalifah Dinasti Fathimiyyah, ia kemudian berhasil menyatukan kedua kekhalifahan ini dengan damai. Tapi tetap saja Shalahuddin masih melihat umat Islam lemah dan malas berjihad dan mereka dihinggapi penyakit Wahn iaitu cinta dunia dan takut mati. Umat Islam juga tidak mengenal ajarannya, tidak mengenal sejarah Nabinya. Ia pun kemudian menggagas sebuah pesta yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad.[10] Di pesta ini dikaji habis-habisan Sirah Nabawiyah dan Atsar Sahabat terutama semangat jihad mereka. Pesta ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Akhirnya banyak pemuda muslim yang semangat berjihad berbondong-bondong mereka mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestin yang saat itu dikuasai oleh orang-orang Kristian Eropah. Merekapun di didik ketenteraan yang akhirnya Perang Salib III atau Perang Sabilpun berlangsung. Palestin digempur habis habisan. Orang Kristian terkepung hanya di Jerusalem.

Dan tidak berapa lama kemudian mereka kalah. Shalahudin berhasil merebut Palestin pada tahun 1187. Orang Kristian lalu mendatangkan bala bantuan dari Eropah yang dipimpin oleh Philip Augustus dari Perancis dan Richard Si Hati Singa dari Inggeris. Pada saat itu Richard sakit keras dan Shalahuddin mengendap-endap ke tenda Richard dan bukannya membunuh musuhnya, dengan ilmu kedoktoran yang hebat Shalahudin mengubati Richard dan sembuh.

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shahuddin, iapun menawarkan damai dan ia akan menarik mundur pasukan Kristian pulang ke Eropah. Merekapun kemudian menandatangani penjanjian damai dan dalam perjanjian itu Shalahuddin membebaskan umat Kristian untuk mengunjungi Palestin secara bebas asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Perjanjian damai itu ditandatangani tahun 1191 M.[11]

Atau dalam versi lainnya dikatakan,[12]Richard berkehendak untuk menekan ke Yerusalem dan berhasil mendapatkan beberapa kota, termasuk Jaffa, tapi pada akhirnya tidak mampu mencapai Kota Suci. Hubungannya dengan Saladin akrab. Keduanya sepertinya saling menghormati. Pada akhir 1192 keduanya menandatangani perjanjian damai 5 tahun yang mengijinkan Umat Kristen memiliki akses ke tempat kudus. Daerah kekuasaan Kristen di Tanah Kudus saat itu telah berkurang menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri dari kota pelabuhan besar”.

4. Perang Salib Keempat (1204 M)

Perang Salib keempat berlangsung tahun 1204 bukan antara Islam melawan Kristian melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma yang merebut Takhta Kristian Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang kota ini bernama Istanbul di Turki).[13] Pada 1198 Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat. Seperti biasa, Prancis menjawab seruan tersebut. Target baru saat itu adalah Mesir, wilayah yang dulunya Kristen namun sekarang menjadi kekuatan Muslim, namun menurup perspektif Kristen prajurit Salib mengabaikan niat awal seruan Paus, dan melakukan ekspansi ke kerajaan Kristen lain demi mengumpulkan dana, terlebih mereka ikut campur dalam sengketa kekuasaan di Konstatinopel.

Kalangan barat sendiri pun mengakui bahwa Perang Salib ini adalah perjalanan bodoh. Tidak hanya tidak sempat untuk berhadapan dengan pasukan Muslim yang menguasai Tanah Kudus, peristiwa ini lebih memisahkan Kekristenan Barat dan Timur disamping merusak secara permanen Kekaisaran Byzantine yang berfungsi sebagai pembatas antara agresi Muslim dengan jantung daerah Kristen.[14]

Di tahun-tahun setelah Perang Salib Keempat, ada beberapa Perang Salib kecil (perang dimana pesertanya bersumpah) dengan penganut bidat (ajaran sesat) dan lainnya. salah satu yang menjadi fokus adalah “Prajurit Salib anak-anak” (1212) dimana ribuan anak diberangkatkan untuk menaklukkan Muslim dengan cinta dan bukan dengan senjata. Seorang anak dari Prancis yang punya visi ini memimpin satu bagian gerakan, sementara satu anak dari Jerman memimpin yang lain. Kebanyakan anak sampai ke Italy. Namun gerakan ini tidak pernah sampai ke Tanah Kudus dan kebanyakan anak mati lapar atau atau mati lelah atau dijual orang jahat dari Italy sebagai budak Muslim. Meskipun begitu gerekan ini menimbulkan simpati yang mengarah ke Perang Salib Kelima.

5. Perang Salib Kelima (1217-1221 M)

Mengenai tahun terjadnya perang salib kelima ada juga yang berpendapat berlangsung dari 1218-1221 M[15], Ini adalah Perang Salib terkahir dimana Gereja berperan Perang salib ini diserukan oleh Paus yang menyerukan Perang Salib sebelumnya, Innocent III, dan juga oleh Konsili Ekumenis ke 12, Lateran !V. Dan seperti upaya sebelumnya, target dari perang Salib ini bukanlah Palestina tapi Mesir, basis dari kekuatan Muslim, yang diharapkan oleh para Prajurit Salib untuk dijadikan bahan tawaran untuk pembebasan Yerusalem.

Usaha kali ini mengalami kesuksesan awal, dan Pasukan Muslim yang terkejut menawarkan syarat damai yang sangat menguntungkan, termasuk pengembalian Yerusalem. Tapi, Prajurit Salib, dianjurkan oleh Kardinal Pelagius, menolak ini. Sebuah blunder militer mengakibatkan Prajurit Salib kehilangan Damietta yang mereka dapat di awal kampanya ini. Pada 1221, Pasukan Kristen menerima perjanjian gencatan senjata dengan syarat yang jauh kurang menguntungkan dari yang pertama. Banyak yang menyalahkan Pelagius, beberapa menyalahkan Paus. Banyak juga yang menyalalahkan Kaisar German Frederick II yang tidak tampil di Perang Salib kali ini tapi yang akan tampil utama di Perang Salib berikutnya.

6. Perang Salib Keenam (1228-1229 M) sebagian mengatakan (1194-1250 M)

Innocent III telah mengijinkan Frederick II untuk menunda partisipasinya di Perang Salib supaya dia bisa mengatasi masalah di Jerman. Penerus Innocent III, Gregory IX, kesal terhadap penundaan terus menerus Frederick memperingatkan Frederick untuk memenuhi kaulnya. Saat sang Kaisar menunda lagi dengan alasan sakit, Paus langsung meng-ekskomunikasi dia. Saat Frederick akhirnya berangkat, dia berperang dalam kondisi ter-ekskomunikasi.

Situasi aneh ini mengawali suatu Perang Salib yang aneh. Sebagain karena ekskomunikasi dari Frederick sedikit orang yang mendukung dia sehingga dia tidak mampu menggalang kekuatan militer yang besar. Karena itu dia memakai diplomasi dan mengambil kesempatan atas terjadinya perpecahan di internal Muslim. Dia melakukan perjanjian dengan Sultan Al-Kamil (keponakan Shalahuddin al-Ayyubi) dari Mesir pada 1229[16]. dan terjadilah kesepakatan Jaffa, Menurut perjanjian tersebut Yerusalem (Kecuali Kubah Batu dan Mesjid Al-Aqsa), Betlehem, Nazareth dan beberapa daerah tambahan, akan dikembalikan ke Kerajaan Yerusalem, ada juga yang mengatakan, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.[17]

7. Perang Salib Ketujuh (1249-1252 M)

Inisiatif untuk Perang Salib ini diambil oleh Raja Louis IX dari Prancis. sekali lagi, strateginya adalah untuk menyerang Mesir dan dijadikan tawaran untuk Palestina. Prajurit Salib dengan cepat mampu mengambil alih Damietta tapi harus membayar mahal ketika mengambil alih Kairo. Serangan balasan Muslim berhasil menangkap Louis IX. Dia kemudian dibebaskan setelah setuju untuk mengembalikan Damietta dan membayar uang tebusan. Setelah itu Louis IX tetap di Timur beberapa tahun untuk bernegosiasi mengenai pelepasan tawanan dan mengkokohkan kekristenan di wilayah tersebut.

8. Perang Salib Kedelapan (1270 M)

Inisiatif untuk Perang Salib ini diambil oleh Raja Louis IX dari Prancis. sekali lagi, strateginya adalah untuk menyerang Mesir dan dijadikan tawaran untuk Palestina. Prajurit Salib dengan cepat mampu mengambil alih Damietta tapi harus membayar mahal ketika mengambil alih Kairo. Serangan balasan Muslim berhasil menangkap Louis IX. Dia kemudian dibebaskan setelah setuju untuk mengembalikan Damietta dan membayar uang tebusan. Setelah itu Louis IX tetap di Timur beberapa tahun untuk bernegosiasi mengenai pelepasan tawanan dan mengkokohkan kekristenan di wilayah tersebut.

Demikian kronologi beberapa peperangan besar dalam perang salib, meskipun sebenarnya perang salin terjadi lebih dari 10 kali, namun 8 perang tersebutlah perang besar yang tercatat dalam sejarah peradaban Kristen dan Islam.

Dari bebarapa peperangan yang terjadi banyak hal yang dapat dipelajari khususnya dalam peradaban islam yang berhubungan dengan moral dalam berperang, dikisahkan ketika tentara salib yang kedua tiba di Marratun Nu’am, mereka mengepung kota itu, dan mereka menjanjikan akan memelihara jiwa, harta dan kehormatannya, namun begitu memasuki kota tersebut mereka membunuh perempuan, anak-anak, sehingga sejarawan prancis mengatakan bahwa yang terbunuh kala itu sampai berjumlah 100.000 orang. Stelah itu pembantaian orang-orang muslim yang menyerah di mesjid al-aqsa yang lebih dari 70.000 orang.

Berselang 90 tahun setelah kejadian itu, Shalahuddin a-ayyubi berhasil menaklukan Baitul Maqdis, namun dengan kearifannya ia melindungi jiwa dan harta lebih dari 100.000 orang barat, kearifan shalahuddin memang bagaikan dongeng, seandainya bukan orang barat sendiri yang mengagumi dan mengakui kebijaksanaanya, maka sejarawan kita hanya akan dianggap mengada-ada.[18]

II. Perang Salib dalam Pandangan Islam.

Dalam pandangan Islam perang salib merupakan sebuah bentuk pertahanan diri dari jajahan tentara Kristen yang membabi buta dalam mengekspansi beberapa daerah-daerah Islam, meski tujuan pertamanya adalah palestina, ditempat yesus dikuburkan, dalam sejarah perang salib, muncul seorang panglima besar dari kalangan Islam, yang dihormati, disegani, sekaligus ditakuti, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi. Sultan Shalahuddin atau Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin). Dalam semua pertempuran yang dipimpinnya, ia selalu berpesan kepada pasukannya, ”minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”. Dalam dunia Islam, Perang salib adalah kebengisan, kekejaman, pembantaian, dan seribu ungkapan lainnya untuk mengilustrasikan apa yang terjadi selama kurun waktu 2 abad tersebut, dalam ekspansi yang dilakukan oleh tentara salin ke palestina, Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.”[19]

Bahkan ada juga yang mengatakan, “jangan lupakan bagaimana kesadisan Dracula, yaitu dalam babakan Perang Salib Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. diperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu manusia. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala.”[20] Dracula disini tentunya makna kias atas kekjaman yang dilakukan oleh pasukan salib, kurang lebih inilah perspektif Islam dalam memandang perang salib.

III. Perang Salib dalam Pandangan Kristen.

Adapun perang salib (crusade) dalam pandangan Kristen merupakan perang suci yang diserukan oleh Paus (bukan raja) demi untuk mempertahankan wilayah kudus yang telah dikuasai oleh orang islam, semangat ini muncul karena wilayah tersebut adalah wilayah kekuasaan Kristen sebelum islam melakukan ekspansi ke palestina, puncaknya adalah masa dinasti Saljuk yang memprsulit orang nasrani untuk berziarah ke Palestina dengan mengambil pajak yang cukup besar. Namun, keberhasilan Paus Urban II dalam menyatukan kerajaan Kristen akhirnya menggeser semangat tersebut, pasukan salib akhirnya secara bertahap mengekspansi daerah-daerah kekuasaan islam lainnya, sehingga terjadi konflik internal di dalam tubuh pasukan salib sendiri.


BAB. III

PENUTUP

I. Kesimpulan

Perang salib merupakan sebuah episode kelam sejarah peperangan atas nama Tuhan bagi sejarah peradaban manusia, khususnya antara Islam dan Kristen, perang ini bermula atas seruan Paus Urban II untuk merebut wilayah suci umat nasrani yang kala itu telah dikuasai oleh kaum muslimin. Seruan ini dijawab dengan bersatunya kerajaan Kristen di eropa dan barat, sehingga perang besarpun tak terelakkan.

Perang salib sebenarnya adalah sebuah perang yang ditunjukan pada kepentingan keagamaan dan diserukan oleh para Paus dan pimpinan gereja, namun makna itupun bergeser, dan dipahami juga sebagai perang yang penuh dengan ambisi politik dan kesuasaan, sehingga dalam sejarah perang salib terdapat peperangan yang terjadi internal agama Kristen.

Perang salib terjadi dalam periodic waktu yang berlainan, secara keseluruhan semua berjalan dalam kurun waktu 2 abad, dari akhir abad ke-11 hingga akhir abad ke-13, di dalamnya terjadi lebih dari 10 peperangan, namun hanya 8 perang besar yang dicatat sejarah sebagai perang salib. Adapun periode perangnya sebagaimana tertulis di atas.

Perang salib dalam sudut pandang Islam dan Kristen tentu punya makna yang berbeda, dan masing-masing kelompok mempunyai pembenaran yang subjektif namun jika kita lihat dari sudut pandang humanitas, moral, dan etika, dunia tentu akan berkata jujur bahwa perang salib mengindikasikan runtuhnya nilai humanitas manusia, karena kebejatan berperang dipraktekan oleh pasukan salib dengan cara-cara yang biadab sebagaimana penulis ungkap di atas.


[1] John L. Esposito, unholy War, (Yogyakarta: LKiS, 2003), 91.

[3] Fadil SJ, Pasang Surut Sejarah Peradan Islam dalam Lintasan Sejarah, (Malang: UIN Press Malang, 2008), 222.

[7] Fadil SJ, Pasang Surut Sejarah Peradan Islam dalam Lintasan Sejarah, 223.

[18] Musthafa Husni As-Syiba’I, Khazanah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 164.

[19] Shalahuddin Al Ayyubi dan Sejarah ‘Perang Salib’, http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=237

el-Faridzie

Published in: on Desember 11, 2008 at 2:51 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://kombas.wordpress.com/2008/12/11/perang-salib-antara-tuhan-dan-manusia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: