Fundamentalisme Islam Dan Fenomena Kekerasan

Tepat pada tanggal 11 September 2001, enam tahun yang lalu, ada sebuah peristiwa paling mengerikan dalam sepanjang sejarah kemanusian. Publik dunia dibuat keget dan meringis. Gedung WTC dan Pentagon hancur hampir rata. Dua simbol perekonomian dan keamanan negara adi kuasa, Amerika Serikat tersebut dihancurkan oleh sekolompok orang yang hingga kini belum jelas.

Berawal dari peristiwa kemanusian ini, AS kemudian mengkampanyekan perang global melawan gerakan terorisme. Peristiwa ini tampaknya dijadikan sebagai momentum dan cukup berhasil bagi AS dalam memunculkan opini publik, bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Tetapi persoalannya, kelompok terorisme yang dimaksudkan AS ternyata hanya dialamatkan terhadap suatu sekolompok atau agama tertentu, yaitu Islam. Implikasinya, Islam menjadi terdakwa sebagai agama teroris atau agama kekerasan. Kelompok yang seringkali mengambil tindakan kekerasan atau teroris itu dialamatkan pada kelompok fundamentalisme islam.

Maka tak pelak, mengalir sebuah asumsi cukup kuat pada sebagian kalangan bahwa fundamentalisme agama (Islam) dan aksi kekerasan (terorisme) di belahan dunia, termasuk di Indonesia memiliki keterkaitan yang cukup erat. Asumsi ini cukup menarik untuk ditelaah dan dicermati. Dua hal yang seolah menjadi dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Fenomena kekerasan, walaupun tidak selalu dikampanyekan dan dimotori oleh kelompok fundamentalisme Islam, tetapi kita tidak dapat mengingkari suatu kenyataan bahwa kekerasan cenderung lahir dari kelompok ekstrimis-radikal ini. Tidak mengherankan kalau kemudian kekerasan diidentikkan dan dilekatkan pada diri kelompok fundamentalisme Islam dan Islam itu sendiri. Suatu pencitraan negatif yang tidak sepenuhnya salah dan atau benar.

Tipologi fundamentalisme Islam merupakan suatu trend modern (baru) gerakan Islam. Namun demikian, secara dokrinal-normatif tipologi gerakan ini mengakar dan dikonstruksi diatas tradisi Islam ortodoks.

Satu hal yang harus menjadi catatan kita, fundamentalisme tidak hanya satu gejala yang tumbuh subur di tubuh agama Islam, tetapi juga pada agama-agama lain dan bahkan juga menyelinap dalam ranah sosial-politik dan ekonomi.

Karakteristik Fundamentalisme Islam

Term fundamentalisme sejatinya suatu istilah yang cukup polemikal dan masih menyimpan problem pijakan pengertian (konseptual) dan pelabelan (pada Islam) yang kurang jelas. Namun demikian, minimal kita dapat melacak geliatnya lewat ciri umum yang melekat pada fundamentalisme.

Dalam bukunya ‘Fundamentalisme Islam Dan Jihad’, Chaider S. Bamualim, menjelaskan bahwa secara umum paling tidak ada tiga karakteristik khas yang melekat pada diri fundamentalisme Islam. Pertama, Islam diasumsikan sebagai ideologi final dan total serta didalam mendekati (memahami) diskursus Islam gerakan ini cenderung skripturalis-literalis. Kedua ; kritis terhadap modernitas dan bersikap resisten terhadap dominasi barat. Ketiga; gerakan ini mengabsahkan aksi-aksi kekerasan (violent actions) dengan cara mengaktifkan konsep jihad dalam Islam sebagai suatu gerakan yang terorganisir (hal.2).

Misalnya, tiga (yang diduga) pelaku bom Bali II di Jimbaran dan Kuta Bali awal Oktober beberapa tahun lalu, mengakui bahwa tindakan dirinya melakukan aksi bom bunuh diri dan aksi kekerasan lainnya di beberapa tempay di Indonesia adalah demi menjalankan misi suci agamanya (Islam) yaitu doktrin jihad dalam melawan Amerika, Australia, Inggris dan Italia. Jihad menurut mereka adalah bagian perjuangan hidupnya.

Jihad (perang suci) sebagai tema sentral gerakan Islam fundamentalis dapat dengan mudah kita temukan ekspresinya dalam bentuk aksi-aksi kekerasan akhir-akhir ini. Kekerasan merupakan catatan yang selalu mewarnai lembaran sejarah kehidupan umat sehari-hari. Dapat kita catat serangkaian insiden bom misalnya, Bom Bali I (12/10/02), Hotel JW. Marriott (5/8/03), Gedung Kedubes Australia, dikenal Bom Kuningan (9/9/04) dan peledakan bom terjadi di dua tempat sekaligus, di Kafe Nyoman, Jimbaran dan Kuta, Bali (1/10/05), yang kemudian dikenal Bom Bali II dan aksi-aksi kekerasan di beberapa tempat lain.

Aksi-aksi kekerasan tersebut tidak bisa dilepaskan dengan keterlibatan beberapa tokoh ( fundamentalisme ?) Islam, seperti Amrozi Cs, Dr. Azhari, Noordin Moh. Top dan beberapa orang yang menjadi jaringan mereka.

Problem Jihad

Jika dicermati, doktrin jihad dalam Islam itu sendiri sejatinya masih menyisakan banyak problem konseptual dan sejumlah paradoks. Ada banyak problem konseptual tentang konsep jihad. Jihad dikalangan Islam sendiri sejak zaman klasik hingga kini masih terdapat kontroversial yang menimbulkan perselisihan yang tak pernah tuntas.

Hal ini setidaknya karena dua hal. Pertama; jihad memiliki ambiguitas pengertian (musytarak al-makna) sehingga dapat menimbulkan multi interpretasi dan rentan memunculkan miss-persepsi. Kedua; jihad bersifat ambigu. Artinya, selain berfungsi sebagai instrumen damai, jihad pun dapat ditafsirkan sedemikiaan rupa sehingga berfungsi menjustifikasi tindakan kekerasan tanpa dilengkapi oleh seperangkat mekanisme yang legitimate.

Dalam dunia modern, kekerasan (baca : perang) memiliki landasan yang dapat dibenarkan, asalkan ditempuh melalui mekanisme yang rasional, dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bertentangan dengan hukum internasional yang disepakati dan diakui bersama oleh masyarakat dunia.(Bamualim :15-16).

Itulah problem konseptual jihad di satu sisi. Sedangkan di sisi yang lain, jihad sangat paradoksal dengan visi-misi Islam yang diembannya. Islam lahir membawa visi-misi perdamaian (Rahmah lil ‘Alamin dalam bahasa al-Qur’an) dan -meminjam bahasa Asghar Ali Enginer- semangat pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dan kekerasan yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam pandangan Al-Qur’an jihad, dalam arti perang fisik diperbolehka hanya sebagai langkah defensif dan dalam batas etik-moral-spiritual. Jihad ditempuh hanya sebagai alternatif terakhir. jihad dilakukan jika terjadi invasi atas wilayah umat islam dan manusia secara umum dan dalam keadaan yang terdesak.

Terakhir, langkah upaya yang paling efektif mencegah -minimal mengurangi- gejala fundamentalisme Islam dan fenomena kekerasan adalah memberikan pemahaman dan pemaknaan yang utuh dan tajam terhadap doktrin jihad dan Islam itu sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan mengkonstruksi pemahaman keagamaan yang kita yakini selama ini Disinilah letak keterlibatan dan peran elit Agama diharapkan. Tanpa upaya semacam ini –walaupun para teroris telah tewas, (Amrozi Cs kini sudah hampir dieksekusi)- saya kira sulit–kalau tidak mau dikatakan mustahil- membendung gejala fundamentalisme Islam dan fenomena kekerasan tersebut. Sebab, ajaran-ajaran kelompok teroris masih tertancap kuat pada sebagian kalangan.

Untuk itu, tanggal 11 September ini harus dijadiakan momentum penting dalam melakukan refleksi ulang terhadap pola pemahaman keagamaan kita. Wallahu A’lam.

* M. Abdul Hady JM, Alumnus PP. Al-Jalaly Ambunten Sumenep Madura, Kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK) Surabaya.

Published in: on Desember 11, 2008 at 4:57 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://kombas.wordpress.com/2008/12/11/fundamentalisme-islam-dan-fenomena-kekerasan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: